Teruntuk sahabat juangku di negeri gemah ripah loh jinawi……
Apa kabarmu, wahai sahabat ? Masih baikkah keadaanmu kala kebenaran hanya jadi kata-kata bijaksana. Masih sehatkah kondisimu ketika kejujuran kini hanya tinggal kenangan.
Yah, mungkin kau bertanya kenapa ku ucapkan itu, sedih memang, tapi itulah kenyataan. Itu realita, sahabatku.
Sahabat, kehidupan akan terus berjalan dan tak akan berhenti sampai suatu titik akhir. Padahal kau masih terus menapaki roda kehidupan, bahkan perjuanganmu bisa dikatakan baru dimulai, yakinlah bahwa kau mampu merajut asa untuk hidupmu.
Oya, sebelumnya ku ingin memastikan sesuatu kepadamu. Mampukah kau untuk bermimpi ? Jawab ya bila kau mampu, namun jika kau menjawab tidak betapa menyedihkannya dirimu, manusia tanpa harapan, manusia tanpa impian. Adakah kau menyimpan mimpi-mimpimu ?
Sahabat, bagaimana kondisi pikiranmu saat ini ? Ku yakin pikiranmu lelah menghadapi paradigma-paradigma baru yang mengguncang hati dan akalmu. Dunia kampus baru saja dimulai, tetapi kenapa kau bilang padaku akan kelelahan-kelelahan yang baru secuil kau hadapi. Tugas-tugas sederhana kau bilang rumit, makalah ilmiah kau katakan musibah. Selalu saja kau gemborkan kata SEMANGAAT!! untuk segala macam kesulitan, tapi sekarang mana gerak langkahmu, ku belum melihatnya sahabat.
Apakah kau ingat pernah bercerita kepadaku tentang keinginanmu yang luar biasa ? Kau pernah katakan ingin menjadi seorang ilmuwan, seorang yang sukses, seorang yang bermanfaat, dan seorang pengabdi bagi negeri ini. Ku hanya bisa mengucap kata berbuatlah ‘tuk raih citamu, dan kau pun mengangguk kuat dengan sinar harapan terpancar sangat besar di wajahmu. Tak hanya itu saja, waktu itu kau juga bercerita tentang masa kecilmu yang selalu bersemangat untuk mengejar ilmu sampai-sampai sakit dan hujan pun tak menghalangi niat muliamu.
Kembalilah sahabat, menjadi dirimu sendiri. Keceriaanmu seolah sirna terenggut masa, kehangatanmu terasa redup oleh sang kabut.
Masih jelas terekam oleh otakku kata-kata penyemangatmu ketika ku terjatuh di lembah kebodohan. Kini ku ada untuk menyokongmu dari belakang.
Sahabat, ku tau kau tak sehebat matahari yang mampu memancarkan sinar sepanjang waktu, kau tak setegar batu karang yang mampu menghempaskan ombak setinggi apapun. Aku dan kau hanyalah manusia bisaa, tak luput dari noktah kegelapan yang menghinggapi hati. Tapi ingat sahabat, kita telah diamanahi planet biru ini oleh Sang Maha Kuasa, masihkah kau menghindar dari tanggung jawab ini ? Bangkitlah jiwa-jiwa yang tertidur lelap, lihatlah sang fajar telah menyingsing.
Maaf, ku tulis surat ini bukan untuk memojokkanmu ataupun menyudutkanmu. Ku tulis kesemuanya tulus dari hatiku untuk kebaikanmu. Ku hanya ingin ceriamu kembali, semangatmu bangkit menapaki jalan yang mungkin terus menanjak dan terjal hingga kau berada di puncak kemenangan.
Sungguh, bersama kesulitan yang kau hadapi saat ini pasti ada jalan kemudahan mengiringinya.
Mungkin hanya sebatas ini ku bisa menuliskan untaian surat pengobat rinduku untukmu. Jika tak ada aral melintang ingin kembali ku tulis dan saat itu ku haarap semangatmu menggelora untuk berjuang.
Wassalaamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar