Emang gak ada duanya deh ikut kegiatan. Selain bisa nambah wawasan tentang organisasi, salah satu event yang asyik wat diikutin yaitu jalan-jalan alias tadabur alam.
Sebenere aku ikut tadabur alam sebagai pendamping anak-anak TPA, jadi peserta aktifnya anak-anak TPA itu aku sebagai peserta pasif...Kemarin tepatnya tanggal 1 Muharram 1429 H, BAKOPI ngadain acara tadabur alam antar pengajian anak-anak di makam seniman Imogiri.
Tempatnya si asyik, tapi naiknya nggak nahanin lumayanlah buat olahraga.
Oya, kegiatannya tu diikuti lima pengajian anak-anak plus pendampingnya walo cuman lima nggak mengurangi keseruan di sana. Awalnya qt kumpul di depan mushola truz tiap pengajian nunggu giliran untuk berpetualang, sistemnya si pos per pos. Tiap pos dikasih pertanyaan, pokoke seru plus bikin capek.
Bercapek-capek dahulu bersenang-senang kemudian. Akhirnya saat yang dinanti tiba, yaitu makan meskipun nggak ada nasi tetep aja snack ambil dobel.
Yowislah, pada intinya banyakin aja kegiatan pas liburan sebelum balik ke sekolah dan menghadapi pelajaran-pelajaran. At last, UN i'm coming..
Jumat, 18 Januari 2008
Senin, 07 Januari 2008
Banjir maning..banjir maning..
Banjir kok jadi tradisi...?
Mungkin itulah kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi negara yang tanpa absen selalu mempersilakan "tamu tak diundang" tersebut. Sebenarnya nggak cuma banjir, tanah longsor pun kini selalu hadir pasca banjir. Setiap hari program berita yang kulihat melulu soal banjir, tanah longsor, angin kencang, juga gelombang tinggi. Banyak orang menjadi korban, entah material maupun kehilangan anggota keluarga.
Isu global warming menjadi hangat karena peristiwa ini. Yah, nggak cuma di Indonesia di mancanegara isu ini juga sering dibicarakan. Tentunya kita masih ingat tentang konferensi perubahan iklim di Bali yang diadakan tahun lalu. Yang ku denger sih, para delegasi membahas tentang [kurang lebihnya ni] bagaimana cara memperbaiki bumi yang semakin lama semakin rusak akibat sebagian besar ulah manusia yang ngawur.
Balik ke laptop eh ke atas,,,manusia sebagai kholifah fil ardl seharusnya mampu menggunakan akal dan kemampuannya untuk menjaga bumi bukan malah merusaknya sehingga mengakibatkan bencana yang silih berganti menerpa negeri ini. Banyak pihak saling menyalahkan kelambanan pemerintah dalam menghadapi situasi ini. Tapi, nasi sudah menjadi bubur alangkah lezatnya jika bubur diberi campuran kerupuk, ayam, dan sebagainya, saatnyalah kita semua menghadapi kenyataan dengan dewasa tak perlu saling menyalahkan. Yang terpenting bagaimana kita saling bahu membahu membantu para korban dan tentu saja membantu untuk ikut peduli terhadap lingkungan sekitar.
Ingat, Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum tanpa kaum itu merubah keadaan dirinya sendiri
Mungkin itulah kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi negara yang tanpa absen selalu mempersilakan "tamu tak diundang" tersebut. Sebenarnya nggak cuma banjir, tanah longsor pun kini selalu hadir pasca banjir. Setiap hari program berita yang kulihat melulu soal banjir, tanah longsor, angin kencang, juga gelombang tinggi. Banyak orang menjadi korban, entah material maupun kehilangan anggota keluarga.
Isu global warming menjadi hangat karena peristiwa ini. Yah, nggak cuma di Indonesia di mancanegara isu ini juga sering dibicarakan. Tentunya kita masih ingat tentang konferensi perubahan iklim di Bali yang diadakan tahun lalu. Yang ku denger sih, para delegasi membahas tentang [kurang lebihnya ni] bagaimana cara memperbaiki bumi yang semakin lama semakin rusak akibat sebagian besar ulah manusia yang ngawur.
Balik ke laptop eh ke atas,,,manusia sebagai kholifah fil ardl seharusnya mampu menggunakan akal dan kemampuannya untuk menjaga bumi bukan malah merusaknya sehingga mengakibatkan bencana yang silih berganti menerpa negeri ini. Banyak pihak saling menyalahkan kelambanan pemerintah dalam menghadapi situasi ini. Tapi, nasi sudah menjadi bubur alangkah lezatnya jika bubur diberi campuran kerupuk, ayam, dan sebagainya, saatnyalah kita semua menghadapi kenyataan dengan dewasa tak perlu saling menyalahkan. Yang terpenting bagaimana kita saling bahu membahu membantu para korban dan tentu saja membantu untuk ikut peduli terhadap lingkungan sekitar.
Ingat, Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum tanpa kaum itu merubah keadaan dirinya sendiri
Langganan:
Postingan (Atom)