Senin, 07 Januari 2008

Banjir maning..banjir maning..

Banjir kok jadi tradisi...?
Mungkin itulah kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi negara yang tanpa absen selalu mempersilakan "tamu tak diundang" tersebut. Sebenarnya nggak cuma banjir, tanah longsor pun kini selalu hadir pasca banjir. Setiap hari program berita yang kulihat melulu soal banjir, tanah longsor, angin kencang, juga gelombang tinggi. Banyak orang menjadi korban, entah material maupun kehilangan anggota keluarga.

Isu global warming menjadi hangat karena peristiwa ini. Yah, nggak cuma di Indonesia di mancanegara isu ini juga sering dibicarakan. Tentunya kita masih ingat tentang konferensi perubahan iklim di Bali yang diadakan tahun lalu. Yang ku denger sih, para delegasi membahas tentang [kurang lebihnya ni] bagaimana cara memperbaiki bumi yang semakin lama semakin rusak akibat sebagian besar ulah manusia yang ngawur.

Balik ke laptop eh ke atas,,,manusia sebagai kholifah fil ardl seharusnya mampu menggunakan akal dan kemampuannya untuk menjaga bumi bukan malah merusaknya sehingga mengakibatkan bencana yang silih berganti menerpa negeri ini. Banyak pihak saling menyalahkan kelambanan pemerintah dalam menghadapi situasi ini. Tapi, nasi sudah menjadi bubur alangkah lezatnya jika bubur diberi campuran kerupuk, ayam, dan sebagainya, saatnyalah kita semua menghadapi kenyataan dengan dewasa tak perlu saling menyalahkan. Yang terpenting bagaimana kita saling bahu membahu membantu para korban dan tentu saja membantu untuk ikut peduli terhadap lingkungan sekitar.

Ingat, Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum tanpa kaum itu merubah keadaan dirinya sendiri

Tidak ada komentar:

Labels

Bio Re (4) For Us (3) Me (15)